|
| AKU KIDAL |
| Selasa, 04 November 2008 |
"Faiz, kalau mencuci kaki saat wudlu harus mendahulukan yang kanan dulu" kata Pak Iwan dengan nada agak sedikit tinggi, maklum sejak dari tadi diperhatikan, Faiz selalu mendahulukan bagian kiri ketika berwudlu. Padahal dalam berwudlu semua bagian tubuh yang dicuci harus dimulai dari sebelah kanan "kenapa, kamu mencuci kaki kiri dulu?" tanya Pak Iwan melanjutkan keheranannya, "Harusnya, kamu mencuci kaki kanan dulu" "Tapi, pak...aku kan kidal. Jadi aku mencuci kaki kiri dulu" Jawab Faiz tenang "Walaupun kidal, kamu tetap harus mendahulukan kaki kanan dulu" tegas Pak Iwan. Sejenak kemudian Pak Iwan memikirkan kembali jawaban Faiz..ternyata jawaban Faiz masuk akal juga. |
dikirim oleh Iwan gunawan @ 17:06  |
|
|
|
| AMOK |
| Jumat, 03 Oktober 2008 |
Banyak pihak merasa prihatin dengan maraknya peristiwa kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Padahal jika dirunut lebih jauh, segala kekerasan itu barulah pada tingkat permukaan saja. Banyak bentuk kekerasan yang justru berada di lingkungan terdekat kita, bahkan mungkin kita sendiri melakukannya. Bisakah kita menghentikannya?
Entah, apakah kita boleh berbangga hati mengetahui bahwa salah satu kosakata bahasa Inggris AMOK, adalah serapan dari bahasa Melayu ‘amuk’. Kamus-kamus ternama di Inggis dan Amerika Serikat memberi penjelasan kata itu sebagai : marah, turun ke jalan, dan menyerang secara membabi buta. Saat ini kita memberinya imbuhan menjadi “mengamuk”.
Online Etymologi Dictionary menjelaskan, kata run amok tercatat pertama kali pada 1672, ketika tiba-tiba saja orang-orang Melayu (kini Malaysia) mengamuk lepas kendali dan menyerang orang sekitarnya. Sebuah tindakan beringas kaum bumiputera yang boleh jadi membuat orang-orang bule Eropa tercengang saat itu.
Ah, Tapi mohon jangan keburu mencibir orang Melayu. Jauh sebelumnya, tepatnya 1516. Duarte Barbosa, dalam cantatan perjalannnya yang dibukukan menjadi An Account of the Countries Bordering on the Indian and Their Inhabitants, juga mencatat fenomena dalam masyarakat suku Jawa yang turun ke jalan dan membunuh sebanyak mungkin orang yang ditemui. Penulis asal Portugis itu mengistilahkannya amuco.
Apakah budaya mengamuk secara tiba-tiba, beringas, rusuh tak terkendali, adalah budaya masyarakat kita? Tidak ada jawaban pasti. Yang jelas, hamper lima abad setelah “amuk” dicomot orang barat, budaya kekerasan masih menjadi keprihatinan kita bersama. Bahkan hingga negeri kepulauan yang dinamakan Indonesia ini merayakan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-63 tahun ini.
Indikator budaya kekerasan ini mudah saja. Cobalah tengok media massa hari ini, dan akan mudah kita temui kata-kata: ancam, bentrok, rusak, serang, gusur, terror, pukul, fitnah, bantai, bunuh, dan sejenisnya. Kekerasan bisa dilakukan pemerintah, aliran politik, kelompok, bahkan Individu, terhadap orang-orang yang dianggap berbeda dengannya. Disisi lain, yang menjadi keprihatinan, iklim dialog yang menjadi salah satu ciri masyarakat intelektual dan beradab semakin jauh ditinggalkan. |
dikirim oleh Iwan gunawan @ 06:44  |
|
|
|
| Cucu Mak Erot |
| Minggu, 21 September 2008 |
Setengah jam yang lalu, seorang wali murid membentak guru, disebabkan keinginan untuk memanggilkan anaknya melalui telepon di sekolah tidak terkabulkan. Orang tua ini, terkenal sebagai turunan raden, sehingga acapkali dia sering bentrok bukan hanya dengan guru, tetapi juga dengan supir jemputan. Melihat keangkuhan orang tua ini, saya dan teman-teman mencoba berkelakar, dengan menirukan gaya marahnya di telepon "Kamu tidak tahu, saya ini turunan raden!" celetuk Pak Erwin menirukan gaya orang tua tersebut, tapi tiba-tiba Pak Iwan menimpali "mending bapak turunan raden. Bapaka tahu enggak, saya ini turunan Mak Erot". Kontan saja teman-teman yang ada disekitar saya tertawa ngakak..!! |
dikirim oleh Iwan gunawan @ 20:06  |
|
|
|
| UNTUNGNYA BERKULIT GELAP |
| Kamis, 11 September 2008 |
Bukannya mau menggugat kenyataan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada saya, tapi ini sekedar pengalaman kisah yang justru menyelamatkan saya dari berbagai peristiwa berbahaya. Ketika saya sedang naik kendaraan umum di Dili (Ibukota Timor Timur ketika masih menjadi provinsi ke-27 RI) kala itu, segerombolan orang bersenjata tajam mencegat mobil yang saya tumpangi. Maklumlah, saat itu sedang ada kerusuhan. Pencegatan ini biasa terjadi di Dili pra-referendum.
Kalau kota sedang rusuh, gerombolan ini biasanya menjadikan pendatang (orang Indonesia) sebagai sasaran. Kalau nasib lagi apes, bisa-bisa mati terbunuh. Kalau sedang mujur, paling babak belur.
Setelah kendaraan berhenti, satu persatu penumpang diperiksa. Pendatang dipukuli, sedangkan orang local boleh pergi. Ketika tiba giliran saya, saya sempat bertanya dalam bahasa Tetun (bahasa nasional Timtim), meski saya hanya bisa beberapa patah kata saja.
Orang yang saya tanyai memandangi wajah saya sebentar, lalu menyuruh saya pergi. Waduh, leganya hati ini. Maklum, kulit saya kehitaman mirip orang local.
Lain waktu, giliran anggota TNI yang melakukan razia terhadap Fretilin. Ini jelas berkebalikan dengan pencegatan yang saya ceritakan tadi. Yang dicari justru penduduk local.
Begitulah, saya memang tercitrakan sebagai penduduk local, sehingga ketika mobil berhenti, salah seorang dari mereka menarik saya keluar. Untungnya, mereka tak main bag-big-bug begitu saja. Lagi-lagi untung, setelah memeriksa kartu identitas saya, anggota TNI tadi meminta maaf dengan wajah memerah. Tapi apesnya, saya jadi ketinggalan mobil. Tapi, tak apalah, yang penting selamat. Alih-alih menggugat kepada Tuhan, saya justru bersyukur dianugrahi kulit gelap (Dwi Nugroho di Jember) |
dikirim oleh Iwan gunawan @ 18:59  |
|
|
|
| BELAJAR DARI LELUCON |
|
Thomas Paine, seorang negarawan Amerika pernah mengatakan, “…dipuji dan ditertawakan itu kerap kali begitu dekat kaitannya hingga sulit dikelompok-kelompokan secara terpisah. Satu langkah saja diatas pujian sudah membuatnya jadi bahan tertawaan. Begitu pula satu langkah diatas yang ditertawakan dapat membuatnya menjadi dipuji lagi.”
Memang kisah jenaka yang sering kita dengar antara Sherlock Holmes dan Watson di bawah ini bisa dibilang sekadar lelucon. Tapi bisa jadi moral ceritanya justru mau menunjukkan apa yang dimaksudkan oleh Thomas Paine di atas.
Masih ingat? Suatu sore Sherlock Holmes dan asisten setianya Watson sedang berkemah di tengah ekspedisinya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, kedua orang ini lantas tidur nyenyak di dalam tendanya. Tengah malam tiba-tiba Holmes membangunkan sang asisten, “Watson, bangun! Coba katakana apa yang kau lihat?” Sambil mengucek-ngucek mata Watson lantas melihat ke atas langit malam, “Aku melihat bermiliar-miliar bintang.” “Lantas apa arti semua itu?” sergah Holmes. “Miliaran bintang itu pertanda adanya potensi terbentuknya jutaan planet,” jawab Watson. “Namun waktu kalau berdasarkan posisi bulan, saat ini mendekati pukul 05.00 subuh.” “Apa lagi?” desak sang bos “Ah, aku masih ngantuk dan capek. Kalau menurut kamu sendiri, apa arti semua itu?” Yang ditanya terdiam sejenak. Lalu menjawab, “Watson, Sayang! Artinya ada maling yang mencuri tenda kita!” Terkadang, sekali bahkan lebih, dalam hidup ini kita juga seperti Watson. (Sumber: Intisari, Agustus 2004) |
dikirim oleh Iwan gunawan @ 18:57  |
|
|
|
| ATM VS KARTU ASKES |
| Selasa, 19 Agustus 2008 |
Hari Senin ini, Ibu Eti koordinator kelas 3C merasa tidak enak badan, dan memutuskan untuk pergi ke dokter di lingkungan Kimia Farma, karena memang askes Ibu Eti mengambil lokasi di Kimia Farma.
Dalam keadaan kepala masih terasa pening dan dengan ditemani oleh saudaranya, Ibu Eti pergi ke Kimia Farma untuk berobat. Setelah sampai di Kimia Farma, seperti biasanya Ibu Eti langsung menyerahkan kartu askes ke petugas pendaftaran.
Alangkah herannya Ibu Eti, karena kartu askesnya ditolak oleh petugas pendaftaran. Selidik punya selidik, ternyata Ibu Eti salah memberikan kartu askes. Kartu yang diberikan ternyata kartu ATM BNI 46…yah pantas aja gak diterima….tapi harap dimaklum….Ibu Eti lagi pening kepalanya. |
dikirim oleh Iwan gunawan @ 19:27  |
|
|
|
|
|