Kamis, 11 September 2008

UNTUNGNYA BERKULIT GELAP

di 18.59
Bukannya mau menggugat kenyataan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada saya, tapi ini sekedar pengalaman kisah yang justru menyelamatkan saya dari berbagai peristiwa berbahaya.
Ketika saya sedang naik kendaraan umum di Dili (Ibukota Timor Timur ketika masih menjadi provinsi ke-27 RI) kala itu, segerombolan orang bersenjata tajam mencegat mobil yang saya tumpangi. Maklumlah, saat itu sedang ada kerusuhan. Pencegatan ini biasa terjadi di Dili pra-referendum.

Kalau kota sedang rusuh, gerombolan ini biasanya menjadikan pendatang (orang Indonesia) sebagai sasaran. Kalau nasib lagi apes, bisa-bisa mati terbunuh. Kalau sedang mujur, paling babak belur.

Setelah kendaraan berhenti, satu persatu penumpang diperiksa. Pendatang dipukuli, sedangkan orang local boleh pergi. Ketika tiba giliran saya, saya sempat bertanya dalam bahasa Tetun (bahasa nasional Timtim), meski saya hanya bisa beberapa patah kata saja.

Orang yang saya tanyai memandangi wajah saya sebentar, lalu menyuruh saya pergi. Waduh, leganya hati ini. Maklum, kulit saya kehitaman mirip orang local.
Lain waktu, giliran anggota TNI yang melakukan razia terhadap Fretilin. Ini jelas berkebalikan dengan pencegatan yang saya ceritakan tadi. Yang dicari justru penduduk local.
Begitulah, saya memang tercitrakan sebagai penduduk local, sehingga ketika mobil berhenti, salah seorang dari mereka menarik saya keluar. Untungnya, mereka tak main bag-big-bug begitu saja. Lagi-lagi untung, setelah memeriksa kartu identitas saya, anggota TNI tadi meminta maaf dengan wajah memerah. Tapi apesnya, saya jadi ketinggalan mobil. Tapi, tak apalah, yang penting selamat.
Alih-alih menggugat kepada Tuhan, saya justru bersyukur dianugrahi kulit gelap (Dwi Nugroho di Jember) 

0 komentar:

 

CERITA MENGAJAR Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare